Sosialisasi dan Pembukaan Pesantren Ekolog

Sosialisasi dan Pembukaan Pesantren Ekologi: Poe Ibu sebagai Tempat Sedekah, Rantang Kesayangan Sebagai Simbol, dan Wakap Quran Sebagai Landasan
 
Suasana khidmat dan penuh kehangatan mengelilingi lahan baru Pesantren Ekologi pada hari pembukaan dan sosialisasi yang digelar. Acara ini tidak hanya meresmikan lembaga pendidikan yang mengintegrasikan ilmu agama dengan peduli lingkungan, tetapi juga menghidupkan tiga elemen penting yang akar dalam budaya dan nilai masyarakat lokal: poe ibu yang berperan sebagai tempat sedekah, rantang kesayangan yang menjadi simbol cinta alam, dan wakap Quran yang menjadi dasar filosofis seluruh gerakan.
 
Poe Ibu: Tempat Berkumpul yang Jadi Wadah Sedekah
 
Konsep poe ibu di pesantren ini tidak hanya sebagai ruang makan atau berkumpul, melainkan diangkat sebagai pusat kegiatan sedekah yang ramah lingkungan. Di sini, makanan yang disiapkan berasal dari kebun organik pesantren dan hasil kontribusi masyarakat sekitar. Setiap hari, poe ibu menyediakan makanan untuk santri, lansia di lingkungan sekitar, dan mereka yang membutuhkan—semua disajikan tanpa menggunakan bahan bungkus sekali pakai.
 
Selama sosialisasi, masyarakat diajak untuk ikut berpartisipasi dalam program "Sedekah Sayur dari Kebun Sendiri", di mana warga dapat menyumbangkan hasil panen kebun mereka ke poe ibu. Selain itu, tim pesantren juga mengajarkan cara mengolah makanan secara efisien agar tidak ada limbah yang terbuang percuma, dan sisa makanan yang tidak dapat dikonsumsi diubah menjadi kompos untuk kebun. "Poe ibu bukan hanya tempat bagi kita berbagi makanan, tetapi juga berbagi kesadaran untuk menjaga alam," ujar salah satu pengelola poe ibu.
 
Rantang Kesayangan: Warisan Keluarga yang Bawa Pesan Hijau
 
Salah satu momen yang menyentuh dalam acara adalah sesi penyerahan rantang kesayangan dari para ibu dan kakek-nenek masyarakat kepada santri calon. Rantang-rantang ini bukan hanya benda biasa—banyak di antaranya telah digunakan oleh beberapa generasi, dibuat dari bahan keramik, bambu, atau stainless steel yang tahan lama dan tidak membahayakan lingkungan.
 
Para pemberi rantang menyampaikan bahwa setiap rantang memiliki cerita sendiri. "Rantang ini dulu digunakan oleh nenek saya saat mengirim makan kepada kakek saya yang bekerja di sawah," ujar seorang ibu dari desa sekitar. "Kita berikan rantang ini bukan hanya sebagai alat makan, tetapi juga sebagai pesan agar anak-anak tidak mudah mengganti barang-barang dan selalu memilih yang ramah lingkungan." Santri pun berjanji akan menjaga rantang tersebut dengan baik dan selalu membawanya saat beraktivitas, serta mengajak teman sebaya untuk mengurangi penggunaan wadah makan sekali pakai.
 
Wakap Quran: Menguatkan Nilai Agama dalam Aksi Ekologi
 
Di tengah acara berlangsung, wakap Quran—grup pengaji yang fokus pada ayat-ayat tentang alam dan tanggung jawab manusia—mengadakan kajian terbuka yang diikuti oleh ratusan peserta. Mereka menjelaskan bahwa konsep menjaga lingkungan tidak terlepas dari ajaran agama; Al-Quran banyak menyebutkan tentang kebesaran Tuhan yang tercermin dalam ciptaan alam, serta kewajiban manusia sebagai khalifah di bumi untuk merawat dan mengelolanya dengan bijak.
 
"Ketika kita melakukan sedekah makanan di poe ibu, itu bukan hanya membantu sesama, tetapi juga menghargai hasil ciptaan Tuhan yang tidak boleh terbuang," jelas salah satu anggota wakap Quran. Kelompok ini juga akan menjadi bagian dari kurikulum pesantren, di mana santri akan belajar menghubungkan ajaran agama dengan tindakan nyata seperti menanam pohon, menghemat air, dan mengelola sampah.
 
Program Unggulan yang Akan Berjalan
 
Dengan tiga elemen tersebut sebagai pondasi, Pesantren Ekologi akan menjalankan berbagai program, antara lain:
 
- Program "Sedekah Organik" setiap hari di poe ibu, yang menerima kontribusi hasil kebun masyarakat dan menyajikan makanan bagi yang membutuhkan.
- Kampanye "Rantang Ku Bersamaku" untuk mengajak sekolah-sekolah dan masyarakat menggunakan wadah makan yang dapat digunakan berulang.
- Kajian bulanan wakap Quran tentang tema lingkungan hidup, yang dibuka untuk seluruh masyarakat.
- Pembuatan kompos dari sisa makanan di poe ibu dan pelatihan daur ulang sampah bagi santri dan warga sekitar.
 
Acara sosialisasi dan pembukaan ini menjadi bukti bahwa pendidikan agama dan peduli lingkungan dapat berjalan seiring, dengan mengangkat nilai-nilai lokal yang telah ada sejak lama. Pesantren Ekologi diharapkan tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga inspirasi bagi banyak pihak untuk melakukan aksi baik bagi sesama dan alam.
 
Apakah Anda ingin bergabung dalam program "Sedekah Organik" di poe ibu atau ingin mengikuti kajian wakap Quran tentang ajaran agama dan lingkungan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Membaca Perilaku Seseorang Tanpa Dia Sadari

Implementasi kurikulum merdeka

Manfaat Bunga Rosellla